Friday, October 14, 2011

Berbagi itu Menyenangkan

Berbagi itu Menyenangkan
Semarang, October 14, 2011
By. Andhini Simeon


Narator                     : Hai teman-teman, apa kabar?
Berjumpa lagi dengan DoNa alias Dongeng Anak. Hayoooo coba siapa yang suka mendengarkan cerita? (*saayyaaaaaaaaaa)
Nah, kali ini kita akan bersama-sama belajar dan melihat Berbagi itu Menyengangkan. Bagaimana menurut kalian? Apakah teman-teman juga suka berbagi? Berbagi mainan dengan saudara? Berbagi ilmu dengan teman? Berbagi bekal dengan kawan?
Sebelumnya kita akan berkenalan dengan sahabat-sahabat hutan.
Simba adalah singa si Raja Hutan yang bijaksana.
Luna adalah kelinci yang lincah dan ramah.
Mooli adalah si sapi yang lemah dan hobi sekali tidur.
Deera adalah si rusa yang cerdas dan banyak akal.
Dan yang terakhir adalah Elly si gajah berbelalai panjang yang suka sekali mandi.

Nah, mau tau bagaimana cerita mereka. Ayooo duduk yang manis ya.

-         Break  -

Narator:  
Hari ini sahabat-sahabat hutan sedang sibuk mempersiapkan musim   kemarau. Menurut kabar musim panas kali ini akan sangat panjaaaaaaaaang sekali dan akan terjadi kekeringan di berbagai pelosok negeri.

Simba si Raja hutan memanggil semua penghuni hutan. Sepertinya ia tengah menyiapkan musim kemarau & kekeringan

-         Cast 01  -

Simba                        : Hai Rakyatku, marilah berkumpul dan mendekat. Aku punya sebuah berita untuk kalian

All animals                : Iya baginda raja. Hormat kami baginda Raja.

Simba                        : Baiklah, aku akan memberikan sebuah pengumuman PENTING.

Deera                         : Apakah itu baginda Raja?

Mooli                         : Iya, apakah itu begitu penting sampai-sampai kami dikumpulkan di sini.

Simba                        : Benar, ini adalah berita yang sangat penting. Sehubungan dengan kabar bahwa sebentar lagi kekeringan dan musim kemarau panjang akan segera datang.

Elly                              : Lalu apa yang harus kita lakukan baginda? Apakah kita akan kekurangan air?

Luna                           : Wuaahhh bahaya sekali kalau sampai persediaan air habis.

Simba                        : Untuk itu aku mengumumkan bahwa akan di bangun sebuah Danau yang besar sekali. Danau itu akan kita pakai bersama-sama jika musim kemarau & kekeringan tiba. Sehingga kita tidak kekurangan air.

All Animals               : Hoooooreeeeeeee………




-         Break  -
Narator:
Maka di bangunlah sebuah danau di tengah hutan, semua penghuni hutan bahu membahu dan saling membantu sehingga danau itu cepat sekali selesai.
Ketika hujan turun danau itu telah di penuhi air yang cukup, sehingga pastilah penghuni hutan tidak akan kekurangan air ketika musim hujan tiba.
Dan tepat beberapa minggu setelah danau itu selesai dibangun musim kemarau mulai membuat penghuni hutan merasa panas, terik, haus, dan lelah.


-         Cast 02  -

Luna                           : Ahhhh panas sekali hari ini. Mau tidur panas, mau jalan-jalan panas. Enaknya ngapain ya? Aaahhhhaaa……aku tau, bagaimana jika aku santai-santai di danau yang penuh air itu. Pastilah menyenangkan. Dan alangkah menyenangkannya bila aku bisa menguasai danau itu.

Narator                     : Luna pun pergi ke Danau untuk menyegarkan dan menyejukan diri dari teriknya sinar matahari. Tapi apa yang terjadi ketika Ia tiba di Danau.

Deera                         : (berteriak) Tidak Danau ini adalah milikku. Aku yang duluan ada di sini.

Mooli                         : Ooohhhh tidak bisa Danau ini adalah kepunyaanku. Kalian tidak boleh memakainya. Aku yang bekerja keras memerah susu hingga kalian punya tenaga.

Luna                           : Hei sedang apa kalian? Mengapa kalian berkelahi.

Deera                         : Ini adalah Danau milikku.

Mooli                         : Enak saja, ini adalah kepunyaanku.

Luna                           : Ehh bagaimana mungkin kalian mengaku. Danau ini adalah hakku. Dan hanya aku yang boleh menggunakannya. Karena akulah yang mengatur sistem perairan jadi akulah satu-satunya pemilik Danau ini.

Deera, Mooli, Luna: Punyaku, Milikku, Hakku, tidaak, buukkaann,

Dan tiba-tiba datang pula si Elly dengan badannya yang besar menerobos di tengah-tengah Luna, Deera dan Mooli.

Elly                              : Hei, Aku mendengar apa yang kalian ributkan. Dan yang sebenarnya memiliki dan punya hak atas Danau ini. Dengan belalaiku ini aku telah memindahkan banyak air ke dalam Danau. Dan badankulah yang paling besar, jadi kalian harus mengalah.

Deera                         : oooo tiidaaakkk ini punyaku,

Luna                           : bukan enak saja ini milikku,

Mooli                         : aahhh siapa bilang ini adalah punyaku.

Elly                              : punyakuuu….

Narator                     : Ternyata penghuni hutan saling berebut mendapatkan hak atas Danau. Mereka merasa Danau itu adalah milik masing-masing. Padahal kan mereka bekerja sama untuk membangunnya. Lalu bagaimana kisah penghuni hutan selanjutnya?


-         Cast 03  -

Narator                     : Kekeringan & musim kemarau semakin panjang dan pertikaian antar penghuni hutan rupanya belum juga usai.

Deera                         : Bagaimana mungkin aku tidak bisa menguasai Danau itu? Padahal itu kan punyaku.

Luna                           : Enak saja, kau tidak berhak. Akulah sang pemilik tunggal Danau itu.

Mooli                         : Hei kalian diam lah, Cuma aku yang seharusnya menjadi pemegang kekuasaan atas Danau.

Elly                              : Sepertinya pertengkaran ini tidak aka ada habisnya. Bagaimana, jika kita menghadap sang Simba untuk menentukan siapa yang paling berhak atas Danau ini. Apakah kalian setuju?

Deera                         : Baiklah

Mooli                         : Ayo kita menghadap paduka Simba

Luna                           : Demi keadilan atas Danau ini.


-         Cast 04  -

Narator                     : Dan merekapun bersama-sama menghadap sang Paduka Raja Hutan Simba untuk mendapatkan keadilan atas siapa yang berhak atas Danau di Hutan.

Simba                        : RRRrrrrooooooaaaarrrrrrr

All animals                : Hormat kami Paduka Raja

Simba                        : Ada hal penting apakah hingga kalian bersama-sama menghadap aku?
Luna                           : begini baginda, kami ingin keadilan

Deera                         : Iya benar, keadilan yang seadil-adilnya

Elly                              : Ini adalah mengenai Danau hutan baginda

Mooly                        : Kami ingin baginda memutuskan siapakah yang berhak atas Danau itu baginda.

Narator                     : mendengar hal itu baginda raja sangatlah murka.

Simba                        : Rrrrrooaaaaarrr…..
                                      Bagaimanakah kalian saling berebutan?
                                      Apa yang kalian pikirkan jika kalian tidak berbagi?
                                      Semua saling iri dan benci.
                                      Tidak ada damai di hutan ini.
                                      Tidak ada yang lebih berkuasa atas Danau di hutan ini.
                                      Semua punya hak yang sama.
                                      Roooaaaaarrrr……

Narator                     : Mendengar baginda murka maka semua penghuni hutan tertunduk dan diam.

Simba                        :  Luna, Deera, Elly dan Mooli
                                      Aku beritahukan kepada kalian jika kalian tetap berebut.
                                      Kalian akan kehilangan sahabat. Bukankah seorang teman
                                      Seharusnya berbagi dan saling menyayangi?
                                      Dunia akan indah bila kita berbagi.

Mooly                        : Maafkan kami baginda

Deera                         : Iya baginda, kami berjanji untuk berbagi dengan teman dan saudara kami
Luna                           : Kami malu atas perbuatan kami baginda.

Elly                              : Maafkan aku ya teman-teman karena telah mencoba merebut Danau milik kita bersama.

All animals                : *berpelukan

Simba                        : Naaaah teman-teman, sudah seharusnya kita saling berbagi. Karena berbagi itu indah. Jangan lupa ya berbagi dengan teman dan saudara. Kasihilah seorang akan yang lain seperti kita mengasihi diri sendiri.

-         Cast 05  -

Narator                     : Setelah itu Deera, Luna, Mooly dan Elly memulai hidup yang damai dan indah di dalam hutan dengan berbagi. Tidak hanya berbagi Danau, namun juga hal yang lainnya seperti mainan, makanan, dan tempat bermain.
Sampai disini dulu jumpa kita. Sampai jumpa di cerita berikutnya. Daaaahhhh……

-         END  -

Saturday, May 14, 2011

BERDONGENG

Dongeng...

Sesuatu yang sampai saat ini masih selalu saya ingat dan mungkin sudah termaterai di pikiran dan benak saya. Karena hampir tiap malam Mama Uti (nenek) selalu menceritakan berbagai macam kisah yang menarik, sewaktu saya kecil hingga memasuki usia remaja.

Sebuah kebiasaan yang mungkin saat ini sudah ditinggalkan oleh orang tua. Seberapakah dari orang tua yang masih membacakan cerita anak sebelum tidur? Atau mendongengkan fabel, cerita rakyat, atau cerita rohani pada anak-anaknya?

Saya belum menikah apa lagi punya anak. Jadi mungkin saya belum merasakan repotnya mengurus anak dan rumah tangga. Apa lagi meluangkan waktu untuk berdongeng. Tapi saya yakin hanya dengan 5-10 menit ibu-ibu atau nenek di seluruh Indonesia meluangkan waktu untuk mendongeng. Setidaknya anak-anak Indonesia bisa lebih menghayati norma dan nilai-nilai luhur yang saat ini mulai pudar.

Hari ini adalah kali ke dua saya berdongeng untuk anak-anak TK. Yang pertama di TK Islam Nurdia dan yang kedua di TK Kencana. 

Durasi bercerita saya tidak lebih dari 15 menit. Ceritanya pun sangat amat sederhana tidak lebih dari 3 tokoh. Dan menurut saya cerita saya juga biasa saja. Tapi yang luar biasa ketika saya memutar ulang video rekaman adalah ternyata wajah anak-anak sangat antusias dan serius menyimak apa yang saya ceritakan. Mereka mengikuti setiap alur cerita dengan sungguh-sungguh.

Baik-baik saya merenung, 
Dunia anak-anak sepertinya rindu dengan hal-hal yang sederhana. Bukan Televisi, bukan X-BOX, bukan PSP, bukan I-Pod, bukan HP, bukan permainan dan hiburan instan.
Mereka membutuhkan interaksi dengan orang lain bahkan dengan orang dewasa. 
Saat ini seberapa banyak kah anak-anak yang masih mengenal dongeng Kancil? Seberapa banyak kah anak-anak yang masih mengenal lagu-lagu anak? Seberapa banyak kah anak-anak yang masih bermain lompat tali, betengan, gangsing?

Ataukah mereka terlena dengan teknologi yang serba instan?

Yang pasti mereka tetaplah anak-anak yang merindukan dunia nyata.



Semarang, 14 Mei 2011
Andhini Simeon

Monday, November 15, 2010

Bersukur dalam Duka

Cerita ini cukup memilukan bagi saya dan mungkin beberapa sahabat.

Dimulai dari awal pertemanan kami ketika duduk di bangku Sekolah Minggu Anak, Sekolah Minggu Remaja, hingga akhirnya kami bersama-sama memulai pelayanan kami di komisi Pemuda. Suka, duka, canda, tangis, selalu ada di tengah-tengah kami. Latihan Band, latihan Paduan Suara, Mengajar Sekolah Minggu, hampir tiap hari kami bersama-sama.

Dari semua pemuda terbentuk pula sebuah grup Band Pengiring Kebaktian Sore, salah satunya adalah GRUP C yang beranggotakan John, Antok, Demas, Titus, dan saya. Mungkin sampai saat ini, inilah kelompok yang tidak pernah gonta-ganti personil sejak pertama kali dibentuk.Kami berlima, bisa dibilang "dekat" karena usia kami yang tidak terpaut jauh, jarak rumah kami pun bisa dibilang satu wilayah di daerah Semarang Barat.


KEPERGIAN SANG ADIK
Jumat, 26 Mei 2006 
Hari minggu adalah hari untuk Grup C bertugas di kebaktian sore. Seperti hari-hari sebelumnya kami selalu berlatih dari hari Jumat. Pukul 5 sore John, Antok, Tittus, dan kedua adik saya Naya dan Rani sudah berkumpul di Greja. Sampai kira-kira setengah tujuh malam Demas belum juga datang. Sampai akhirnya kami mendapat kabar kalau Demas meninggal dalam perjalanan menuju ke gereja untuk latihan bersama kami.Demas meninggal karena kecelakaan tunggal.

Di hari Minggu itu pun kami Grup C tetap mengiringi dengan duka, kehilangan, dan kerinduan kami kepada seorang sahabat, seorang teman, dan seorang adik. Masih saya ingat betul, tiap tetesan air mata hampir sepanjang kebaktian kami rasakan.

Terkejut rasanya, seperti tidak percaya. Kami kehilangan seorang adik, seorang sahabat, dan seorang gitaris. Sampai saat ini pun setelah sekitar 4 tahun berlalu GRUP C tetap beranggotakan 4 orang, tanpa pengganti Demas. Karena kami tahu Demas tidak pernah tergantikan bagi kami. Walau pun kami mencoba untuk mencari gitaris pengganti. Sepertinya Tuhan belum memberikan gitaris bagi kami. Dan kini Grup C hanya tinggal 3 orang, karena John harus merantau ke Jakarta.

Demas adalah anak ke dua dari dua bersaudara. Putra dari Bapak & Ibu Sentot dan adik dari Mba Ratna Kartika Sari (Mba Nana). Bagi kami, keluarga ini sudah seperti keluarga kami. Bapak & Ibu Sentot dan juga mba Nana sudah seperti orang tua kami. Mereka adalah bagian dari hidup kami dalam bergereja.

Kesedihan yang dirasakan oleh keluarga mereka atas kepergian Adek (begitu kami menyebutnya) juga merupakan duka yang mendalam bagi kami. Bagi saya pribadi, kepergian Demas sampai saat ini pun masih meninggalkan goresan. Bahkan setiap Grup C berlatih untuk pelayanan saya masih merasakan Demas ada ditengah-tengah kami.


KEPERGIAN MBA NANA
Tanggal 21 Oktober 2010
kembali kami meneteskan air mata.
Mba Nana pulang ke Rumah Tuhan meninggalkan kami dengan senyuman.Mba Nana mengalami kecelakaan ketika perjalanan menuju ke gereja, kecelakaan tunggal. Sama seperti si Adek. Mba Na jatuh di sekitar lokasi yang sama.

Dua hari sebelum tanggal 21 Okt, tepatnya hari Selasa. Kami Tim Paduan Suara GKJ Karangayu sedang berlatih mempersiapkan Pesparawi Klasis. Latihan berakhir pukul 21.00, namun kami masih duduk-duduk di gereja untuk membicarakan tentang kostum. Sampai pukul 21.30 saya pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, saya membuka PC dan update status Facebook. Betapa terkejutnya saya ketika mba Tyas menulis berita bahwa Mba Nana kecelakaan dan tidak sadarkan diri di RS Panti Wilasa Citarum. Seketika itu juga pecahlah tangis dan air mata saya. Saya mengajak ibu dan adik-adik saya berdoa. Berdoa untuk mba Nana.

Esoknya hari Rabu, saya memutuskan untuk menunggu Mba Nana di Rumah Sakit dari Pagi sampai sore. Sesampai saya di rumah sakit, saya sempat masuk melihat kondisi Mba Nana di ICU. Ia tampak cantik, tanpa beban, seperti sedang tidur. Dari mulutnya dipasang ventilator untuk membantunya supaya tetap bernafas. Di sampingnya ada juga Mas Luluk yang memegang erat tangan kekasihnya yang terlelap. Air mata penyesalan yang tak kunjung henti menetes. Sesekali Mas Luluk, mencium tangan mba Nana dengan air mata yang berlinang. 

Kamis pagi, kira-kira pukul 8.00 saya kembali ke ICU karena mendapat kabar Mba Nana meninggal. Sampai di ruang ICU Pak Sentot, Pak Pdt Natanael, Eyang Uti, Bulek Nining, dan saya (mungkin masih ada orang lain juga) bersama dengan suster. Kami melihat alat-alat bantu di tubuh Mba Nana di lepas. Setelah semua alat di lepas, saya meminta ijin untuk bisa memeluk mba Nana. Pelukan terakhir untuk seorang kakak, seorang patner guru sekolah minggu, seorang sopran yang hebat, seorang motivator, seorang yang sangat lekat.

Rasanya saya seperti kembali ke masa ketika Demas meninggal. Sejenak, saya bertanya kepada Tuhan "Kenapa Kau Ijinkan semua ini terjadi?"


KELUARGA YANG MENJADI TELADAN
Bapak dan ibu Sentot,
bagi saya adalah sebuah teladan yang hebat.
Sama seperti kisah Ayub. Keluarga ini telah kehilangan kedua putra-putrinya.
Tanggal 30 Oktober 2010, saya mengunjungi makam Demas & Mba Nana di Salatiga.
Kami bertemu dengan keluarga ini. Walaupun masih terasa suasana duka. Tapi ada suasana yang berbeda. Ada damai sejahtera yang terpancar dari keluarga ini. 
Bahkan ketika perayaan HUT 40th GKJ Karangayu, Pak Sentot bersedia untuk hadir bernyanyi bersama kami. Yang mengejutkan lagi, Bapak dan Ibu Sentot datang membesuk Alm Pak Mardiyono ketika dirawat di Rumah Sakit.

Keluarga ini adalah sebuah teladan bagi saya.
Dalam kondisi yang tersulit sekalipun, mereka tetap mengabdikan diri untuk melayani.

Apakah saya, juga bisa seperti Mereka?


Ayah Sentot & Mama, kami sayang kalian. Kalian adalah motivasi. Kalian adalah Alkitab yang terbuka. Kalian adalah firman yang hidup.

Tuhan Yesus Memberkati