Wednesday, September 15, 2010

"He"



"HE"
By: Richard Mullen 

He can turn the tides and calm the angry sea.
He alone decides who writes a symphony.
He lights ev'ry star That makes our darkness bright.
He keeps watch all through Each long and lonely night.
He still finds the time To hear a child's first prayer.
Saint or sinner call And always find Him there.


Though it makes him sad

To see the way we live,
He'll always say, "I forgive."


He can grant a wish Or make a dream come true.

He can paint the clouds And turn the gray to blue.
He alone knows where To find the rainbow's end.
He alone can see What lies beyond the bend.
He can touch a tree And turn the leaves to gold.
He knows every lie That you and I have told.

Though it makes him sad
To see the way we live,
He'll always say, "I forgive."  

Mengenang ketika awal kuliah ato masih SMA ya?? Ketika Lomba Panduan Suara Grejawi Se-Klasis Semarang Barat tepatnya di GKJ Semarang Barat.

Kalo nyanyiin lagu ini dan meresapinya, bisa bikin merinding dan nangis. Nangis karena pesan yang ingin di sampaikan dalam liriknya. Membuat kita tersadar kalau Tuhan yang sangat Besar, sangat Suci, sangat Segala-galanya. Mengawasi, mengamati, dan memperhatikan segala tingkah laku bahkan dosa kita. 

Yang paling memilukan Sang Maha pencipta, yang tahu dimana goresan Pelangi berakhir. Tanpa harus kita minta pengampunan. Tuhan lebih dulu mengampuni kita yang berdosa.

Haduuuhhhh jadi merinding beneran......
Ya ampun Tuhan......
Maafin anak-Mu ini :'(
Saat Teduh masih bolong-bolong
Berdoa tidak segenap hati
Mengasihi diri sendiri saja belum bisa
Apalagi mengasihi sesama seperti diri sendiri.



Peace,
Andhini Simeon
andhini.simeon@gmail.com

Monday, September 13, 2010

What should I do??

Bingung....

Cuaca mulai tak bersahabat?
Kadang panas terik lalu tiba-tiba hujan badai.

Jalan-jalan masih tampak lengang....
hanya satu atau dua mobil lalu lalang

Sekarang aku bingung
Tak tau harus berbuat apa

Memandang jalanan yang lengang
Sambil bertopang dagu

What should I do???


Saturday, September 11, 2010

Pemakaman Bergota dan Kehidupan di Dalamnya

Pemakaman Bergota dan Kehidupan di Dalamnya
Semarang, 26 Maret 2010
By.Andhini Simeon
andhini.simeon@gmail.com


Bila mendengar kata pemakaman atau kuburan, yang terlintas pastilah tempat yang sepi, angker, menyeramkan, bahkan mistis. Di tambah lagi beberapa mitos bahkan film membuat gambaran pemakaman semakin menyeramkan.


Namun apakah di zaman millennium ini pemakaman masih terkesan mistis?

Di kota Semarang, ada sebuah pemakaman umum bernama Bergota. Bergota adalah dataran tinggi yang berada di tengah kota. Pada zaman kerajaan Mataram kuno abad 8-15M bukit ini Bergota/Plagota/Pergota adalah salah satu bukit asal muasal kota Semarang yaitu Pulau Tirang.


Pada masa ini bukit ini telah berubah menjadi pemakaman umum terbesar di kota ini. Bahkan saking penuhnya saat ini dibuka lahan pemakaman umum Bergota Baru yang terletak di perbukitan Semarang bagian barat.


Letak Bergota berhimpitan dengan Rumah Sakit Umum Dr. Kariadi, Sekolah SD dan SMP Pangudi Luhur, Pasar Bunga dan jalan raya. Di sekitarnya juga terdapat pemukiman warga. Saat ini jumlahnya semakin bertambah seiring pertumbuhan jumlah penduduk yang beranak pinang dan karena himpitan ekonomi akhirnya menetap di sekitar Bergota. Karena lokasinya berada sekitar public area membuat Bergota tidak terkesan sepi bahkan mistis. Belum lagi di tengah pemakaman terdapat jalan yang cukup lebar untuk lalu lalang kendaraan bermotor.


Jika berkunjung Bergota pada siang hari banyak aktivitas yang terjadi di dalam area pemakaman ini. Banyak kendaraan bermotor berlalu-lalang. Bahkan di satu lokasi gedung milik fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro yang terletak di area ini akan terlihat mobil berjajar. Terlihat pula beberapa orang yang datang dengan membawa keranjang bunga untuk mengenang dan menghormati sanak saudara yang di makamkan di tempat ini. Di tengah pemakaman ada juga orang berjualan gerobak atau dengan menggunakan lapak. Pada jam pulang sekolah tampak anak-anak berbaju seragam berjalan menyusuri pemakaman ini dengan canda dan tawa. Ada pula penduduk yang bercengkrama di tengah pemakaman di bawah pohon rindang. Yang paling mengherankan adalah melihat seorang bapak dan anak yang buang air di sekitar pemakaman.


Berbeda dengan siang hari, pada sore hingga malam hari keadaan lebih lengang. Masih ada lalu lalang kendaraan bermotor yang sebagian besar adalah penduduk yang bermukim di sekitar area pemakaman. Masih juga terlihat bapak-bapak yang bercengkrama di ujung gang-gang kecil sekitar pemukiman. Neon-neon terlihat menerangi sebagai pembatas antara pemakaman dan pemukiman.


Pemakaman juga dijadikan sebagai tempat untuk mencari nafkah. Mulai dari juru kunci, penjaga makam, tukang bersih-bersih makam, tukang parkir, tukang gali makam, pedagang sampai pengemis. Hampir setiap hari roda perekonomian juga bergerak di tempat peristirahatan terakhir ini.


Tidak seperti layaknya pemakaman. Bergota adalah tempat berkumpul, tempat pertukaran barang dan jasa, bahkan tempat buang hajat. Pemakaman menjadi bagian hidup masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Kesan angker semakin terkikis dengan adanya masyarakat yang terhimpit hingga menjadikan pemakaman sebagai tempat untuk bersosialisasi.